Petualangan White Water Rafting di Elo

Tahu yang namanya White Water Rafting gak ? Ini artinya naik perahu karet menyusuri sungai ke hilir. Sering juga disebut dengan kegiatan arung jeram. Aku sudah pernah mengikuti kegiatan ini. Ternyata rafting seperti ini tidak semua orang berani melakukannya, jadi boleh saja ini disebut satu tantangan. Boleh juga disebut petualangan walaupun mestinya kegiatan ini tetap ditemani oleh seorang yang sudah berpengalaman untuk memandu perahu karet ini.

Ini lho yang namanya white water rafting atau arung jeram.

Ini lho yang namanya white water rafting atau arung jeram.

Rafting ini dilakukan di sungai Elo di daerah Magelang. Waktu itu kami pergi beramai-ramai. Ini saya buat daftar pesertanya : bapakku, ibuku, aku, adikku, pakdeku, budeku, putera pakdeku no 1, puteri pakdeku, putera pakdeku yang no 3, sepupuku yang dari blater, sama satu orang lagi katanya sih cowoknya sepupuku itu. Hehe… lengkap kan. Itu dua mobil lho ke sana. Kami pergi ke tempat pengelolanya di daerah Mungkid dekat dengan candi Mendut.

Ternyata setiap perahu itu hanya bisa dinaiki oleh enam orang ditambah dengan satu orang pemandunya. Dari markas di sini ternyata sudah mundur dulu Bude Ima, ibu Ari, Anti dan Piman. Jadi tinggal bertujuh yang mau ikut. Kalau mau dua perahu tentu saja tanggung, kemudian dirembug ternyata boleh dinaiki untuk tujuh orang karena Ian dan aku kan masih kecil-kecil.

Setelah menunggu peserta lain, kami diantar naik kol bersama-sama dengan perahu karet menuju  titik start. Lokasi ini berada di dekat jembatan di jalan Magelang arah Blondo. Setelah turun setiap peserta diberi latihan singkat dalam melakukan rafting. Kami diajari cara mendayung, aba-aba yang diberikan oleh pemandu, cara menyelamatkan diri kalau jatuh ke air dan lain-lain. Kami juga masing-masing diberi sarana perlindungan diri terdiri dari helm, baju pelampung serta dayung.

Mengenakan alat pelampung.

Mengenakan alat pelampung.

Jadi selama rafting nanti tidak boleh tenggelam lho ya...

Jadi selama rafting nanti tidak boleh tenggelam lho ya...

Prosedur keselamatan diri itu untuk dibaca bukan untuk ajang lokasi foto.

Prosedur keselamatan diri itu untuk dibaca bukan untuk ajang lokasi foto.

Sebelum berangkat karena kemungkinan berbasah-basah maka semua isi saku harus ditinggal. Jadi  dompet, hape dan isi aku lainnya dititipkan saja. Kamera untuk keperluan dokumentasi dibawa oleh salah seorang pendamping dari tim.

Soal kamera ini tentunya menjadi yang penting. Jadi sebelum berangkat sudah dulu foto-foto dulu. Latihan pakai alat pengaman difoto. Sedang mendengarkan petunjuk keselamatan difoto. Mau masuk perahu difoto. Mau start difoto. Dayungan pertama difoto. Habis itu sudah. Lha kan kameranya dibawa oleh petugasnya yang kemudian pindah naik motor.

Para peserta duduk di kanan kiri perahu. Aku tidak boleh duduk di depan sendiri, tapi ya tidak apa-apa. Bapak yang di depan bersama pakde Harto. Pemandunya sendiri berada di ujung perahu bagian belakang. Dia bertugas untuk mengarahkan laju perahu dan memberi komando untuk mendayung.

Siap masuk perahu.

Siap masuk perahu.

Start dimulai : Satu, Dua, Tiga !

Start dimulai : Satu, Dua, Tiga ! Hayo muali dayung...

Sewaktu mulai menaiki perahu karet, terasa biasa saja. Apalagi tinggi air saat itu juga tidak begitu besar karena bukan musim penghujan. Kami latihan mengikuti arahan pemandu untuk mendayung. Sambil mencoba mengikuti arahan pemandu kami pun mulai menikmati berperahu menyusuri sungai elo ini. Pada waktu melintasi bebatuan terasa mulai nikmat karena laju perahu harus berbelok-belok mengikuti aliran air sungai. Kadang juga terasa bergolak karena harus melalui riam kecil. Beberapa puluh meter dari titik start ini harus melewati di bawah jembatan Blondo. Jadi biasanya lewat jembatan ini naik mobil di atas sana, sekarang melewati sungai di bawah jembatannya.

Beberapa kali lagi perahu kami harus melewati riam kecil. Setelah itu kami melewati jalur sungai yang realtif tenang tanpa bebatuan. Tiba-tiba saya lihat rombongan di perahu satunya berteriak kencang, dan penumpangnya jatuh ke air. Rupanya oleh pemandunya perahu sengaja diolengkan dan ditenggelamkan sehingga penumpang jatuh ke air dan basah semua. Akibatnya mereka masuk ke air, tetapi karena mengenakan pelampung mereka dapat terapung dan naik ke perahu lagi. Untuk perahu yang kami naiki tidak ditenggelamkan karena ada dua penumpang yang imut-imut, hehe…

Selama berkendara cukup menyenangkan juga menyusuri sungai ini. Air sungai terlihat kehijauan dan bukan jernih sehingga namanya yang pas mestinya bukan white water. Namun begitu kami menyukai suasana ini. Terlebih saat itu cuaca udara tidak begitu panas, karena banyak terlindung tebing tinggi dan pepohonan di kanan kiri sungai.

Siap-siap masuk riam.

Siap-siap masuk riam.

Awas riam nih...

Awas riam nih...

Kalau ada riam baru terasa nikmatnya melakukan arung jeram ini. Perahu akan meluncur dikemudikan oleh pemandu. Beberapa saat sebelum jeram, biasanya pemandu akan memberi aba-aba untuk mendayung dengan cepat dan setelahnya dayung supaya diangkat jangan mendayung lagi. Setelah itu perahu meluncur dengan cepat ke arah jeram. Pada saat itu kemudian perahu akan turun dan kemudian tertahan di bawah jeram untuk mendongak kembali. Wah rasanya seperti terombang-ambing. Apalagi jika kemudian melewati jeram yang berturutan, seperti terlempar berulangkali. Mungkin kayak naik roller coaster yang terbawa sungai. Kami melewati beberapa kali riam yang kadang berdekatan dan kadang berjauhan.

Kalau pada saat aliran tidak begitu menantang dan tenang. Kami gunakan untuk melihat suasana di tepi sungai. Banyak pepohonan dan rumpun bambu yang tumbuh di tepi sungai. Beberapa kali juga terlihat ada air terjun kecil yang merupakan aliran dari sungai kecil yang kemudian mengalir terjun ke bibir tebing sungai. Di sini terkadang juga terlihat ada burung-burung yang beterbangan. Burung yang khas adalah burung capit urang yang sering mencari makan ikan di sungai. Burung ini berwarna biru dengan paruh besar untuk menangkap ikan-ikan kecil.

Kemudian pemandu di lokasi tertentu memberikan aba-aba supaya bersiap. Ternyata waktu itu perahu kami akan masuk ke lokasi jeram cukup besar dan jalur sungainya juga berbelok. Wah kami tambah bersemangat mendayung perahu sekuat mungkin. Saat sudah mulai masuk ke riam ini ternyata sudah siap para fotografer untuk mengabadikan momen ini. Kami sendiri di perahu lebih memperhatikan pada pandangan ke depan di jeram itu serta menikmati ayunan di perahu yang kami naiki. Akhirnya setelah terlepas dari riam ini ternyata, kami beristirahat terlebih dahulu.

Di tempat peristirahatan ini sudah disiapkan makanan ringan dan teh manis untuk pengganjal perut. Lumayan ternyata cukup lapar juga karena mungkin lebih dari setengah jam berperahu dengan mendayung. Pisang goreng dan mendoan yang disediakan pun cepat habis. Sambil menunggu keberangkatan lainnya, di sini pun dimanfaatkan untuk berfoto-foto. Saya juga memanfaatkan aliran sungai yang cukup tenang itu untuk berenang. Lumayan tidak ada kolam renang, di sungai pun jadi untuk berenang. Karena masih pakai pelampung, berenang di sinipun enak saja. Tinggal mengapung dan mengikuti aliran sungai tetap tidak tenggelam.

Berehnti dulu untuk istirahat.

Berehnti dulu untuk istirahat.

Jagalah kebersihan.

Ini yang penting, dimana-mana harus selalu : Jagalah kebersihan.

Berenang di sungai.

Berenang di sungai. Enak pakai pelampung jadi tidak mudah tenggelam.

Akhirnya beberapa waktu kemudian kami pun segera berangkat. Suasana seperti sebelumnya terjadi lagi. Menikmati alunan riam sungai dan juga mendayung berbelak-belok. Pada jalur ini juga oleh pemandu disuruh balapan dengan perahu satunya. Tetapi karena anggota di sini kebanyakan masih kecil-kecil dan makannya juga sedikit, maka jelas kemudian kalah cepat dalam mengayuh perahu karet ini.

Saat itu waktu sudah mulai sore hari. Saat itu kemudian ternyata mulai banyak orang yang berada di tepian sungai. Ternyata mereka itu pergi ke sungai untuk mandi sore hari. Jadi ada pemandangan gratis yang boleh disaksikan selama berafting waktu itu. Ada juga melihat anak-anak yang mandi dan berenang di sungai. Bahkan ada yang bermain dengan jalan terjun ke sungai waktu perahu kami lewat di dekatnya. Wah berani juga ya mereka. Mendekati jembatan Mungkid, kami melewati air terjun besar yang terlihat dari jauh. Setelah dekat ternyata itu berasal dari pipa yang menurut cerita pemandu itu berasal dari kolam renang di bagian atas. Untung saja aliran air yang jatuh itu tidak pas di atas perahu.

Kemudian kami melewati jembatan Mungkid yang menandakan bahwa garis finish itu sudah dekat lagi. Kami disuruh cepat-cepat mendayung untuk mendayung perahu yang berada di depan. Perahu kami terpisah tidak begitu jauh sih. Tapi untuk mendayung sudah agak letih jadi ya akhirnya mendayung sedapatnya saja.

Setelah melewati jeram yang cukup panjang dan berbatu-batu ternyata itu merupakan garis finish yang telah tercapai. Finish ini berada di pertemuan sungai Elo dan sungai Progo. Lumayan juga kami telah berperahu dengan jarak sekitar 10 kilometer. Perjalanan ini ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam.

Mendekati titik akhir finish di tempuran sungai progo dan elo.

Mendekati titik akhir finish di tempuran sungai progo dan elo.

Aduh capenya...

Aduh capenya...

Habis itu kami berjalan kembali ke tempat markas rafting ini. Di situ kami mandi untuk berbilas. Ternyata di sini sudah disediakan makan. Wah sedapnya makan karena perut kelaparan. Hidangan pecel dan ayam goreng pun menjadi ludes.

Senanglah pokoknya pengalaman arung jeram saat itu… Mungkin besok kalau ada lagi yang mau rafting boleh juga saya diajak ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s